Sebuah Opini Tentang Allegory Of The Cave

Allegory of the cave atau perumpamaan dari sebuah gua ditulis oleh plato seorang tokoh filsafat yunani kuno yang pendapatnya dalam bidang filsafat sudah terbaca secara luas selama lebih dari 2.300 tahun, plato menulis tidak kurang dari tiga puluh enam buku yang kebanyakan menyangkut masalah politik, etika, metafisika, dan teologi. Untuk menjelaskan idenya plato banyak menggunakan analogi dan ilustrasi dalam bentuk dialog. Karya plato yang paling saya ingat adalah allegory of the cave terdapat di buku VII dari karyanya The Republic. Dalam allegory of the cave plato mencoba menjelaskan tentang konsep kebenaran & persepsi. Allegory of the cave diceritakan dalam bentuk dialog antara Socrates & Glaucon. Untuk melihat dialog lengkapnya bisa diliat disini, karena dialognya cukup panjang saya hanya akan memberikan ringkasan dari dialog tersebut berdasarkan opini pribadi saya.

Image converted using ifftoany

image from here

Jadi ceritanya ada sekian orang yang dari lahir dan hidup dibawah gua seterusnya disebut sebagai tawanan. Kaki,tangan dan leher mereka diikat kuat jadi mereka tidak bisa bergerak bahkan untuk menoleh pun tidak bisa, mereka hanya bisa menatap ke satu arah yaitu dinding gua. Di belakang mereka terdapat api unggun, antara api unggun dan tubuh mereka terdapat celah atau jalan dan terdapat dalang (puppeeters) yang bertugas menampilkan objek tertentu maka objek apapun yang ditunjukan diarea itu akan membentuk bayangan ke dinding gua sebagai buah dari refleksi yang dihasilkan oleh api unggun. Karena para tawanan hanya dapat melihat ke dinding gua maka mereka hanya melihat bayangan dari benda benda yang terefleksikan oleh api unggun, bagi mereka kebenaran atau realita adalah bayangan bayangan itu. Misalnya si dalang menunjukan objek kucing maka bayangan kucing akan terefleksikan ke dinding gua dan para tawanan akan berkata bahwa itu adalah kucing padahal yang mereka lihat bukan kucing yang sebenarnya melainkan bayangan dari objek kucing.

Suatu ketika salah seorang tawanan dilepaskan dan dipaksa untuk keluar dari gua yang pada awalnya tentu ia akan merasa kesakitan. Tangan kaki dan leher yang biasanya tidak bergerak dipaksakan untuk bergerak serta mata yang biasanya tidak pernah melihat cahaya secara langsung pun dipaksa untuk melihat sinar matahari yang pasti akan terasa sakit. Perlahan-lahan ia sadar akan realita yang sebenarnya dan bahwa selama ini apa yang ia persepsikan dengan teman-teman tawanannya adalah tidak benar dan bahwa ternyata apa yang mereka anggap sebagai sebuah kenyataan adalah tak lebih dari sebuah bayangan yang direfleksikan oleh hal-hal yang lebih besar. Ia pun kembali ke gua dan berusaha untuk membebaskan tawanan lainnya dari realita palsu yang dianggap sebagai sebuah kebenaran. Tentu saja cara ia berpikir tentang realita sudah jauh berbeda dengan tawanan lainnya karena ia sudah melihat realita yang sebenarnya. Karena perbedaan itulah tawanan lainnya menganggap ia gila dan pergi ke luar gua adalah penyebabnya maka mereka lebih memilih untuk tetap berada di dalam gua. Sementara untuknya ia melihat tawanan lain sebagai orang yang picik dan bodoh karena tetap memilih untuk percaya terhadap realita versi mereka sendiri (bayangan).

Menurut saya ada beberapa bagian penting dari cerita:

1. Dinding gua

Dinding gua sebagai tempat dimana kita melihat bayangan dari suatu objek yang yang timbul akibat dari objek yang ditunjukan dalang dan terefleksikan oleh api unggun sebagai apa yang kita lihat dan kita anggap sebagai kebenaran. Menurut plato panca indera kita hanya melihat bayangan dari kebenaran sedangkan kebenaran yang sebenarnya hanya bisa dilihat secara akurat dengan akal.

2. Wilayah luar gua

Wilayah luar gua dianggap sebagai tempat dimana kebenaran yang sebenarnya berada dan dianggap sebagai kebenaran tertinggi.

3. Tawanan yang meninggalkan gua

Tawanan yang meninggalkan gua dianggap sebagai orang yang berpikir kritis dan mampu mempertanyakan keyakinannya sehingga ia bisa dan mampu menemukan kebenaran yang sebenarnya di luar gua.

4. Tawanan yang memilih tetap tinggal di gua

Tawanan yang memilih tetap tinggal di gua adalah orang yang menerima tanpa mempertanyakan apapun atau disebut sebagai pengamat pasif.

5. Dalang (pupeeters)

Dalang sebagai orang yang menunjukan objek bisa dikatakan sebagai orang yang punya wewenang dan dapat mempengaruhi hidup dari para tawanan. Untuk di zaman sekarang pihak-pihak yang bisa jadi dalang mungkin bisa direpresentasikan oleh media, pemerintah dan tokoh agama karena mereka sepertinya punya wewenang yang cukup untuk mempengaruhi orang banyak.

Menurut saya allegory of the cave setidaknya merangkul 3 hal yaitu teologi, politik dan etika. Kandungan teologi begitu kentara mengingat kebenaran tertinggi adalah kebenaran Tuhan, kandungan politik terlihat dari cara tawanan yang telah melihat keadaan diluar gua berusaha mengajak tawanan lain untuk keluar dari gua sedangkan kandungan etika terasa dari cara plato menggambarkan para tawanan yang memilih tetap tinggal di dalam gua tanpa mempertanyakan apapun.

Perumpamaan ini membuat saya tertarik karena menyimpan maksud yang dalam dan masih make sense di kehidupan kita sampai sekarang. Menurut saya allegory of the cave setidaknya mengajarkan kita tentang apa yang kita lihat dan persepsikan selama ini sebagai suatu kebenaran belum tentu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Seringnya kita terlalu fokus untuk membuktikan bahwa kita benar daripada mencari kebenaran itu sendiri. Padahal  untuk mengetahui kebenaran yang sebenarnya, tidak cukup hanya dengan berpikir tapi kita juga harus memiliki hati yang besar. Proses berpikir dan belajar inilah yang dianggap penuh perjuangan karena kita harus melawan diri kita sendiri dari berbagai ketakutan akan pencarian kebenaran, karena sesungguhnya kebenaran tidak selalu membahagiakan.

 

Referensi :

http://adipustakawan01.blogspot.co.id/2013/06/plato-tokoh-filsafat.html

http://www.historyguide.org/intellect/allegory.html

http://octavianinurhasanah.net/blog/2012/07/25/123-platos-allegory-of-the-cave-ngomongin-tentang-persepsi-kenyataan-dan-tuhan/

https://medium.com/indian-thoughts/education-and-platos-allegory-of-the-cave-bf7471260c50

 

View story at Medium.com

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s